Senin, 08 Juli 2013

Laporan Praktikum Psikologi Faal Penciuman dan Pengecapan



LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI FAAL
Nama Mahasiswa        : Adam Tirtaputra
NPM                             : 10512115
Tanggal Pemeriksaan : 15 Juni 2013
Nama Asisten  : 1. Fransiskus F.
                            2. Retha Kartika
Paraf Asisten   :

I.       Percobaan                           : Indera Pembauan
          Nama Percobaan                : 1.  Bau Kemenyan.
                                                         2.  Membedakan Wewangian
Nama Subjek Percobaan   : Adam Tirtaputra
Tempat Percobaan             : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan         : Untuk membuktikan bahwa zat yang dibaui adalah zat yang berupa gas, serta membedakan beberapa wewangian mulai dari bau yang tidak enak sampai yang enak.
b. Dasar Teori                    : Manusia dapat membedakan berbagai macam bau bukan karena memiliki banyak reseptor pembau namun kemampuan tersebut ditentukan oleh prinsip-prinsip komposisi (component principle). Seperti pada penglihatan warna (hanya memiliki tiga reseptor warna dasar, namun dari komposisi yang berbeda-beda dapat dilihat warna yang bermacam-macam), organ pembau hanya memiliki tujuh reseptor, namun dapat membedakan lebih dari 600 aroma yang berbeda. Alat pembau atau sistem olfaction biasa juga disebut dengan organon olfaktus, dapat menerima stimulus benda-benda kimia sehingga reseptornya disebut pula chemoreseptor.
                                               Organon olfaktus terdapat pada hidung bagian atas, yaitu pada concha superior dan membran ini hanya menerima rangsang benda-benda yang dapat menguap dan berwujud gas. Bagian-bagiannya adalah sebagai berikut:
1. Concha Superior.    2. Concha Medialis.
3. Concha Inferior.      4. Septum nasi
                                               Concha-concha tersebut adlaah dari tulang, ditutupi oleh selaput lendir yang mengandung penuh pembuluh-pembuluh darah dan dapat membesar. Gunanya untuk memanasi hawa yang akan masuk ke paru-paru.
                                               Reseptor organon olfaktori terdapat di bagian atas hidung, menempel pada lapisan jaringan yang diselaputi lendir dan disebut olfactory muscosa. Selaput lendir tersebut berfungsi untuk melembabkan udara. Pada bagian tersebut juga terdapat bulu-bulu hidung yang berfungsi untuk menyaring debu dan kotoran. Benda kimia yang dapat menstimulasi sel saraf dalam hidung adalah substansi yang dapat larut dalam zat cair (lendir) yang terdapat pada silia yang menutupi sel tersebut. Makin berbau suatu substansi, maka hal tersebut menunjukkan bahwa makin banyak molekul yang dapat larut dalam air dan lemak (konsentrasi penguapannya tinggi). Olfactory Muscosa memiliki akson yang mampu melalui bagian tengkorak yang permiabel (Cribriform plate) dan masuk ke olfactory bulbs (saraf cranial yang pertama). Pada olfactory bulbs, terjadi sinapsis dengan neuron yang menyampaikan pesan secara menyebar ke olfactory paleocortex di lobus temporal bagian medial melalui lateral olfactory tract. Dari olfactory paleocortex, ada jejak saraf yang menuju medial dorsal nucleus pada thallamus dan kemudian menuju olfactory neocortex di bagian depan frontal lobus, tepatnya pada permukaan inferior. Neuron-neuron olfactory paleocortex yang lain akan menuju ke sistem limbik. Bila proyeksi neuron ke thallamic-neocortical bertugas sebagai perantara kesadaran persepsi terhadap aroma, maka proyeksi neuron ke sistem limbik bertugas sebagai perantara respon emosional terhadap aroma. Reseptor aroma hanya mampu berfungsi selama 335 hari. Bila mati, baik karena sebab yang alami maupun karena kerusakan fisik, maka reseptor tersebut akan digantikan oleh reseptor-reseptor baru yang aksonnya akan berkembang ke lapisan olfactory bulbs yang akan dituju, dan bila telah sampai pada lapisan yang dimaksud, mereka akan memulihkan koneksi



sinapsis yang terputus.
                                                            Skema Sistem Olfaktori (Pinel,1993)
                                               Kemampuan membau makhluk hidup sangat tergantung kepada fisik dan psikologisnya. Ada 4 yang sangat mempengaruhi:
1.  Susunan Rongga Hidung. Bentuk Concha dan Septumnasi tempat reseptor pembau pada masing-masing orang tidak sama bentuknya. Contohnya pada orang yang berhidung mancung lebih luas daripada yang berhidung pesek.
2.  Variasi Fisiologis. Contohnya pada wanita, saat sebelum menstruasi atau pada saat hamil muda akan menjadi sangat peka.
3.  Spesies. Pada spesies tertentu yang kemampuan survivalnya tergantung pada pembauan, akan memiliki indera pembau yang lebih peka, Contohnya pada anjing.
4.  Besarnya Konsentrasi dari substansi yang berbau. Misalnya pada skatol (bau busuk yang terdapat pada kotoran atau feses) memiliki konsentrasi yang kuat karena memiliki kemampuan menguap yang tinggi. Bila konsentrasi kuat maka baunya busuk, sebaliknya bila konsentrasinya rendah akan menimbulkan bau yang berbeda (contohnya pada bunga yang mengandung skatol dalam konsentasi yang rendah malah akan menimbulkan bau harum).
Terdapat sekitar tujuh kelas dalam perangsang penciuman primer, yaitu perangsang yang dapat merangsang sel-sel olfaktoria tertentu, diantaranya: kamfer/kapur barus (amphora cecua), wangi/kasturi (musky), bunga (floral), permen (peppermint), ether, pedas, dan busuk. Rasa penciuman ini sangat peka, dan kepekaannya mudah hilang bila dihadapkan pada suatu bau yang sama untuk waktu yang lama.
c. Alat yang Digunakan     : Tempat membakar kemenyan, hio, sebutir kemenyan atau sebutir hio, serta wadah dan beberapa macam wewangian (lebih dari 5).
d. Jalannya Percobaan      : 1.1  Pertama-tama praktikan mengambil sebatang dupa, hio dan obat nyamuk bakar dan kemudian membauinya. Setelah itu, dupa, hio, dan baygon bakar dibakar dan praktikan diminta untuk kembali membauinya.
                                                  2.1  Praktikan diminta untuk mencium serta menebak lebih dari 5 wewangian yang disediakan dan mencatatnya.
e. Hasil Percobaan              : 1.1  Hasil Individu:
- Lebih kuat bau setelah dibakar dari bau sebelum dibakar
                                               1.2  Hasil Sebenarnya:
- Lebih strong/kuat bau setelah dibakar dari pada bau sebelum dibakar
                                                  2.1  Hasil Individu:
1.  Teh tubruk
3.  Bunga kenanga
4.  Jahe
5.  Pisang
6.  Jeruk
7.  Kopi
                                               2.2  Hasil Sebenarnya:
1.  Teh tubruk
3.  Bunga melati
4.  Jahe
5.  Bunga mawar
6.  Jeruk
7.  Kopi
f. Kesimpulan                     : 1.1  Dupa, hio dan obat nyamuk bakar termasuk zat yang dapat menyebabkan perangsangan penciuman yang lebih menyengat setelah dibakar daripada yang belum dibakar. Dapat lebih menyengat diakibatkan pembakaran dari zat tersebut bercampur dengan udara dan menguap serta merangsang sel-sel olfaktoria yang masuk kedaerah superior hidung yang terdapat olfactory epithelium yang sangat sensitif terhadap molekul-molekul bau. Kemudian reseptor-reseptor olfaktoria memberi respon terhadap bau dupa, hio dan obat nyamuk bakar tersebut, ketika partikel bau tertangkap oleh reseptor, sinyal akan di kirim ke olfactory bulbs melalui saraf olfactory yang merupakan tempat mengirim sinyal dan diproses ke otak.
2.1  Dalam pembedaan pewangian sensasi wangi/bau terjadi karena adanya interaksi zat dengan reseptor dari indera pembauan yang diteruskan ke otak berupa sinyal-sinyal. Reseptor ini merupakan sel saraf yang berupa seperti benang halus. Pada satu ujung sel saraf berinteraksi dengan zat berbau, sedangkan ujung yang lainnya berkumpul dalam suatu tulang menuju bagian otak yang bertugas menerjemahkan sinyal sensasi dari indera pembauan. Saraf cranial (olfactory) manusia dapat membedakan berbagai macam bau bukan karena memiliki banyak reseptor pembau, namun kemampuan tersebut ditentukan oleh prinsip-prinsip komposisi. Organ pembau hanya memiliki 7 reseptor bau namun dapat membedakan lebih dari 600 aroma.
g. Daftar Pustaka               : Puspitawati, Ira. (1998). Psikologi faal. Depok: Universitas Gunadarma.

II.      Percobaan                           : Indera Pengecap
Nama Percobaan                : 1.  Merasakan berbagai macam rasa.
Nama Subjek Percobaan   : Adam Tirtaputra
Tempat Percobaan             : Laboratorium Psikologi Faal
a. Tujuan Percobaan         : Untuk memahami bahwa lidah merupakan alat pengecap rasa serta membuat peta rasa.



b. Dasar Teori                    : Reseptor sistem gustatory berada di lidah dan bagian-bagian rongga mulut. Reseptor perasa disebut taste buds yang umumnya terletak di sekitar kuncup pengecap yang disebut papillae. Hubungan antara reseptor perasa, taste buds dan papillae dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
                        Hubungan Gustatory, Taste buds dan Papillae (Pinel, 1993)
Sistem Gustatory atau organon gustus adalah indera pengecap yang terdapat pada lidah dan memiliki 4 modalitet, yaitu:
1.  Manis, pada puncak lidah, dapat diselidiki dengan meletakkan gula di lidah.
2.  Asin, pada puncak dan tepi lidah, dapat diselidiki dengan meletakkan garam di lidah.
3.  Asam, pada tepi lidah, dapat dibuktikan dengan meletakkan asam sitrun di lidah.
4.  Pahit, pada pangkal lidah, dapat dibuktikan dengan meletakkan kina di lidah.



Berikut di bawah ini adalah gambar dari peta lidah yang memperlihatkan bagian manis, asin, asam dan pahit.
                                  Peta Lidah
Beberapa ahli menambahkan modalitet yang kelima, yaitu rasa alkali. Di luar ke lima macam rasa tersebut, ada kombinasi antara keempat atau kelima macam rasa itu yang akan menimbulkan rasa yang berbeda-beda. Berbagai macam rasa tersebut masih dikombinasikan dengan tipe-tipe rangsangan yang lain, seperti rangsang panas, dingin, lembut, dan nyeri. Reseptor pada lidah akan digantikan oleh reseptor yang baru setiap 10 hari sekali.
Reseptor perasa tidak memiliki akson sendiri. Tiap neuron yang membawa impuls dari taste buds, akan menerima input dari beberapa reseptor sekaligus. Sinyal yang timbul pada reseptor perasa akan meluar ke sistem second-order neuron yang akan disampaikan ke cortex. Berikut adalah gambar dari jejak saraf sistem gustatory:



                                 (Pinel, 1993)
Saraf afferen pada sistem gustatory meninggalkan rongga mulut yang merupakan bagian dari saraf kranial bagian facial (VII), glossopharyngeal (IX), dan vagus (X). Informasi bermula dari bagian depan lidah, ke bagian belakang lidah lalu akhirnya menuju ke bagian belakang rongga mulut. Saraf-saraf tersebut akan berakhir di solitary nucleus di medulla dan bersinapsis dengan neuron yang akan menyampaikan pesan ke ventral posterior nucleus di thallamus (letaknya berbeda dengan bagian penerima impuls dari stimulasi oral yang motorik sifatnya). Akson-akson pada nucleus ventral posterior akan membawa berita ke primary gustatory cortex dan ke secondary gustatory cortex. Sistem gustatori juga akan menuju sistem limbik. Proyeksi impuls ke hypothallamus diperkirakan memiiliki peranan penting dalam mengatur rasa lapar. Satu hal lagi yang perlu diingat dalam sistem gustatori, yaitu berbeda dengan sistem sensoris yang lain, sistem gustatory tersebut diproyeksikan secara ipsilateral.
Kemampuan mengecap seseorang tergantung pada:
1.  Faktor Individual, contohnya seseorang yang sedang sakit, maka kepekaan mengecapnya jadi berkurang.
2.  Nilai Ambang, nilai ambang ini tergantung dari kebiasaan seseorang. Contohnya seseorang yang sudah biasa makan-makanan yang asam, akan lebih tinggi daripada orang yang tidak terbiasa makan asam.
3.  Konsentrasi, contohnya seseorang yang makan garam satu mangkok garam, lama-kelamaan tidak merasakan asin lagi seperti pertama kali ia memakannya.
c. Alat yang Digunakan     : Cotton bud, 9 larutan rasa (manis,asin, pahit, asam dan pedas), sapu tangan (handuk kecil).
d. Jalannya Percobaan      : Praktikan diminta untuk mencoba berbagai macam larutan rasa dengan menggunakan cotton bud. Lalu setiap kali mencoba rasa yang lain, praktikan diminta lebih dahulu untuk mengelap lidahnya dengan menggunakan sapu tangan (handuk kecil). Selanjutnya, minta kepada praktikan untuk menebak masing-masing rasa yang dirasakan oleh praktikan.
e. Hasil Percobaan              : 1.1  Hasil Individu: 9 rasa dari yang enak sampai tidak enak:
1.  Manis       6.  Pedas manis
2.  Asin         7.  Pedas asin
3.  Asam       8.  Pedas asam
4.  Pahit        9.  Pedas pahit
5.  Pedas.
                                               1.2  Hasil Sebenarnya:
1.  Manis       6.  Pedas manis
2.  Asin         7.  Pedas asin
3.  Asam       8.  Pedas asam
4.  Pahit        9.  Pedas pahit
5.  Pedas.
f. Kesimpulan                     : Zat yang dirasakan/dikecap oleh organon gustus adalah zat yang dapat larut dalam cairan, terutama dalam hal ini adalah cairan liur. Jika organon gustus kering, maka tidak dapat merasakan apa yang diletakkan diatasnya/yang ingin dikecapnya. Jadi, pada saat ingin merasakan berbagai macam warna harus melakukan percampuran air liur dengan rasa yang ingin dirasakan.
g. Daftar Pustaka               : Puspitawati, Ira. (1998). Psikologi faal. Depok: Universitas Gunadarma.