Jumat, 17 Mei 2013

BIOGRAFI DEMOCRITUS



1.     Riwayat Hidup Singkat
Demokritos hidup dalam kurun waktu 460-370 SM dan ia lahir di Abdera di pesisir Thrake, Yunani Utara. Walaupun tahun kelahirannya lebih muda 10 tahun dari Sokrates, namun Demokritos tetap dimasukkan sebagai filsuf prasokratik, yang beraliran Mazhab Atomisme. Ia merupakan murid dari Leucippos, pendiri dari aliran Mazhab Atomisme tersebut. Salah satu alasannya adalah karena Demokritos masih terbatas pada alam pemikiran filsuf jaman prasokratik dan tidak seperti pemikiran filsafat gaya baru yang sedang berkembang pada jamannya. Demokritos juga disebut sebagai “The Laughing Philosopher“, ia disebut sebagai “The Laughing Philosopherkarena ia adalah seorang filsuf yang dikenal karena suka tertawa. Ia selalu tertawa karena pembawaan jiwa dan pikirannya yang positif dan gembira. Demokritus percaya pada prinsipnya dan menemukan alat untuk menunjang kepercayaannya. Dan kelihatannya, prinsip-prinsipnya berhasil dan Demokritus hidup selama 90 tahun.
2.     Karya-karya
Demokritos menulis tentang ilmu alam, astronomi, matematika, sastra, epistemologi, dan etika. Ada sekitar 300 kutipan tentang pemikiran Demokritos di dalam sumber-sumber kuno. Sebagian besar kutipan-kutipan tersebut berisi tentang etika. Tetapi, Sayangnya tidak ada satupun karya-karya Demokritos yang tersimpan.
3.     Ajaran
a.       Atom-Atom dan Kekosongan
Demokritos beranggapan bahwa prinsip dasar alam semesta adalah atom-atom dan kekosongan. Sehingga segala realitas yang ada itu dapat dijelaskan dengan mengacu pada gerakan-gerakan berbagai atom tersebut. Atom sendiri memiliki pengertian sebagai gugusan unsur-unsur terkecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi (a=tidak, tomos=terbagi).
Sedangkan konsep atom sendiri tidak dapat dipisahkan dengan adanya ruang kosong (void). Sebab pada dasarnya ruang kosong menjadi syarat mutlak bagi bergeraknya atom-atom itu. Hal ini yang membuat filsuf atomisme mengakui adanya ruang kosong, tidak seperti Zeno yang menolak adanya ruang kosong. Bagi para filsuf ini yang ada bukan hanya “yang ada” (being), tetapi juga “yang tidak ada” (not being). Maka ruang kosong adalah nyata. Semua atom bersifat tidak termusnahkan, tidak dijadikan, tidak memiliki massa, tidak dapat diinderai karena memang ukurannya yang sangat kecil dan dengan menempati ruang, atom senantiasa bergerak. Namun yang membedakan antara atom yang satu dengan yang lain adalah bentuk (seperti huruf A berbeda dengan huruf N), urutannya (seperti AN berbeda dengan NA), dan posisinya (seperti N berbeda dengan Z).
Seperti yang dijelaskan di atas bahwa atom tak bisa tidak dipisahkan dari ruang kosong untuk senantiasa bergerak dan melalui gerakan itulah atom membentuk semua benda. Demokritos berpendapat bahwa pola dan arah gerakan atom tidak melulu ke atas atau ke bawah, tetapi lebih ke segala arah. Diibaratkan sama seperti debu yang bergerak ke segala arah di bawah sinar matahari walaupun tidak ada angin.
Selama bergerak dalam ruang kosong ternyata atom saling bertabrakan dengan atom-atom lain dan karena memiliki bentuk yang tidak teratur, atom-atom ini saling mengait dan mengunci, mengelompok dan berkombinasi membentuk segala benda yang dapat diindrai. Bagaimana ini bisa diindrai? Jawabannya adalah karena setiap benda yang dibentuk dari atom-atom mengeluarkan gambar-gambar kecil (eidola). Gambar-gambar ini diterima oleh pancaindra dan kemudian dipertemukan dengan jiwa yang juga tercipta oleh atom-atom. Bertemunya atom-atom gambar dan atom-atom jiwa inilah maka kita bisa melihat, membaui, mendengar dan merasakan. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa proses pertumbuhan adalah hasil dari pengelompokan atom-atom sedangkan pembusukan adalah proses terurainya atom-atom.
Selain itu, atom juga dipandang sebagai tidak dijadikan, tidak dapat dimusnahkan, dan tidak berubah. Yang terjadi pada atom adalah gerak. Karena itu, Demokritus menyatakan bahwa "prinsip dasar alam semesta adalah atom-atom dan kekosongan". Jika ada ruang kosong, maka atom-atom itu dapat bergerak. Demokritus membandingkan gerak atom dengan situasi ketika sinar matahari memasuki kamar yang gelap gulita melalui retak-retak jendela. Di situ akan terlihat bagaimana debu bergerak ke semua jurusan, walaupun tidak ada angin yang menyebabkannya bergerak. Dengan demikian, tidak diperlukan prinsip lain untuk membuat atom-atom itu bergerak, seperti prinsip "cinta" dan "benci" menurut Empedokles. Adanya ruang kosong sudah cukup membuat atom-atom itu bergerak.
b.       Terciptanya Kosmos dan Manusia
Melalui konsep atom, Demokritos berpendapat bahwa alam semesta dan manusia juga tercipta dari atom-atom yang saling berkait. Pada mulanya atom-atom yang bergerak ke segala arah pada ruang kosong saling bertabrakan dan mengait. Kemudian atom-atom yang saling bergerak ini membentuk suatu gerakan berputar seperti angin puting beliung dan mulai menarik atom-atom. Atom-atom besar tertarik ke bagian pusat putaran dan berkumpul, sedangkan atom-atom halus terlempar ke pinggir. Akhirnya terciptalah alam semesta melalui proses ini.
Demikian pula manusia. Demokritos berpendapat bahwa manusia juga tercipta dari atom-atom yang saling berkait, tetapi yang menjadi perbedaannya adalah bahwa manusia tercipta dari kumpulan atom-atom yang sifatnya lebih halus (atom-atom api). Dalam jiwa manusia, bertemunya atom-atom benda dengan atom-atom jiwa tidak hanya memberikan berbagai sensasi bagi indera kita, tetapi juga memunculkan perasaan-perasaan tertentu tergantung dari kondisi atom-atom tersebut. Sehingga ada orang yang mengalami peristiwa yang sama tetapi mengalami perasaan yang berbeda.
c.       Pengenalan
Sebelumnya telah dikatakan bahwa setiap benda, yang tersusun atas atom-atom, mengeluarkan gambaran-gambaran kecil yang disebut eidola. Gambaran-gambaran inilah yang masuk ke panca indra manusia dan disalurkan ke jiwa. Manusia dapat melihat karena gambaran-gambaran kecil tersebut bersentuhan dengan atom-atom jiwa. Proses semacam ini berlaku bagi semua jenis pengenalan indrawi lainnya. Lalu bagaimana dengan kualitas yang diterima oleh indra manusia, seperti pahit, manis, warna, dan sebagainya? Menurut Demokritos atom-atom tersebut tidak memiliki kualitas, jadi darimana kualitas-kualitas seperti itu dirasakan oleh manusia? Menurut Demokritos, kualitas-kualitas seperti itu dihasilkan adanya kontak antara atom-atom tertentu dengan yang lain. Misalnya saja, manusia merasakan manis karena atom jiwa bersentuhan dengan atom-atom yang licin. Kemudian manusia merasakan pahit bila jiwa bersentuhan dengan atom-atom yang kasar. Rasa panas didapatkan karena jiwa bersentuhan dengan atom-atom yang bergerak dengan kecepatan tinggi.
Dengan demikian, Demokritos menyimpulkan bahwa kualitas-kualitas itu hanya dirasakan oleh subyek dan bukan keadaan benda yang sebenarnya. Karena itulah, Demokritos menyatakan bahwa manusia tidak dapat mengenali hakikat sejati suatu benda. Yang dapat diamati hanyalah gejala atau penampakan benda tersebut. Demokritos mengatakan:
"Tentunya akan menjadi jelas, ada satu masalah yang tidak dapat dipecahkan, yakni bagaimana keadaan setiap benda dalam kenyataan yang sesungguhnya...Sesungguhnya, kita sama sekali tidak tahu sebab kebenaran terletak di dasar jurang yang dalam."
d.      Etika
Demokritos adalah satu-satunya filsuf prasokratik yang telah memikirkan tentang hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain. Maka wajar saja kalau ajarannya ini belumlah tertata secara sistematis. Etika Demokritos yang dikenal sebagai Etika Euthumia lebih menekankan pada keadaan batin yang sempurna. Batin manusia dikatakan sempurna bila manusia hidup secara seimbang dengan menjunjung kebahagiaan jiwa. Ajarannya banyak menghasilkan kata-kata bijaksana yang bisa menjadi pedoman untuk sampai pada keseimbangan jiwa ini. Karena hanya rasio atau jiwa yang bisa menjaga keseimbangan ini, maka Demokritos menekankan untuk meredam keinginan duniawi dan mengembangkan kesederhanaan hidup. Pada akhirnya, memang sulit mencari hubungan antara teori atom dengan etika euthumia Demokritos dan dalam hal ini, Demokritos ingin menunjukkan keluasan pengetahuannya.





Sumber :
1.      Blikololong, J.B., Pengantar Filsafat. Jakarta: Universitas Gunadarma, 1997.
2.      Blikololong, J.B., Pengantar Filsafat untuk Mahasiswa Psikologi. Bekasi:Universitas Gunadarma, 2010.
3.      Bertens, K., Sejarah Filsafat yunani. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1999.